Perjalanan MANGROVE INSTITUT
Bak gulungan ombak, kerja-kerja mangrove itu berulang silih berganti, membentuk profil kami saat ini……!!


Bak gulungan ombak, kerja-kerja mangrove itu berulang silih berganti, membentuk profil kami saat ini……!!
MANGROVE INSTITUT didirikan oleh Sapto Mangrove (yang bernama asli Sapto Pamungkas) di Purworejo Jawa Tengah, pada Sabtu Pahing, 5 September 2015.
MANGROVE INSTITUT adalah satu dari tiga pilar gerakan Yayasan KOMANGJO Indonesia (KOMANGJO Foundation). Dua pilar lain adalah Wisata Minat Khusus Berbasis Desa (BIA) & Belajar Untuk Berkawan Ular (BELUKAR)
Sebelum mendirikan MANGROVE INSTITUT, sang Doktoral Ilmu Kelautan ini adalah legenda hidup mangrover dari KeSEMaT-UNDIP Semarang.
Beliau sangat super aktif berorganisasi di KeSEMaT-UNDIP dari tahun 2006 s.d 2015 dan sampai saat ini menjadi Dewan Kehormatan KeSEMaT-UNDIP.
Platform MANGROVE INSTITUT adalah Sekolah Pendidikan Generasi Muda Lingkungan atau lebih dikenal sebagai EYES (Environmental Youth Education School).
Menasbihkan diri sebagai organisasi mangrove lokal, namun dengan kapasitas global, yang terus memberi warna manfaat secara nasional.
Sapto Pamungkas belum menjadi Sapto Mangrove, ketika pertama masuk menjadi anggota KeSEMaT-UNDIP tahun 2006. Beliau ditempa melalui kerja-kerja mangrove bernilai 2M (1.Makasih 2.Mas) s.d 5M (3.Makan 4.Minum 5.Mantab) yang tidak terhitung, dilakukan dari Aceh, pantai barat-timur Sumatera, hampir seluruh pantai Jawa, pesisir Kalimantan, pulau-pulau kecil di Bali-Nusra hingga pedalaman pesisir Papua. Sampai kemudian Sapto Mangrove menonaktifkan diri dan diangkat menjadi Dewan Kehormatan KeSEMaT-UNDIP pada awal 2015 s.d sekarang. Ilmu & pengalaman tersebut, beliau gunakan untuk merumuskan pendirian lembaga khusus yang fokus pada mangrove.
Setelah menyelesaikan tesis mangrove di Oura Bay, Okinawa, Jepang. Pertengahan tahun 2015, Sapto Mangrove memutuskan untuk hijrah ke Purworejo dari PANTURA Semarang. Jiwa mangrover beliau tetap membara di kabupaten kecil PANSELA Jateng ini, bersama Jeki Wibawanti & Nunik Iriyanti, bertiga mendirikan lembaga MANGROVE INSTITUT.
Bersamaan dengan itu, Sapto Mangrove bersepakat dengan Iman Tjiptadi, Wahyudi, Edi Priyatmoko, Ahmad Ardani, Jeki Wibawanti, Ardias Elga & Azizah Hakim Nurlela, untuk membentuk komunitas mangrove yang dinamai KOMANGJO (Komunitas Mangrove Purworejo). Komunitas ini kemudian berhasil menjadi juara nasional Wanalestari.
Untuk menguatkan pondasi gerakan mangrove, format komunitas di-upgrade menjadi Yayasan KOMANGJO Indonesia atau lebih dikenal sebagai KOMANGJO Foundation, dengan 3 pilar utama yaitu: konservasi mangrove, wisata minat khusus berbasis desa & penyadartahuan ular. Pilot project pertama KOMANGJO adalah Desa Gedangan, Purwodadi, Purworejo. Selama 2,5 tahun KOMANGJO berhasil mendampingi pemdes, membranding dan mendesain TEM-DEMANG GEDI (Taman Edukasi Mangrove-Desa Mangrove Gedangan Purwodadi)
Kegemilangan TEM DEMANG GEDI menjadi daya ungkit tersendiri bagi MANGROVE INSTITUT. Alhasil, banyak pendampingan/pelatihan dilakukan di desa-desa pesisir dan DAS yang memiliki potensi pengembangan SDA & isu bencana lingkungan. MANGROVE INSTITUT memberi arahan pemdes dalam penyusunan RAPBdes & RKPdes konservasi lingkungan desa. Banyak BUMDES pengelola SDA desa yang lahir dari hasil tangan dingin MANGROVE INSTITUT.
Covid meluluhlantakan tatanan dunia. MANGROVE INSTITUT ikut terkena dampaknya. Puluhan kesepakatan pelatihan dan pendampingan desa, batal..! Alasanya, aturan pembatasan mobilitas fisik dan refocusing anggaran desa. Selama pandemi, lembaga ini hanya eksis dari webinar ke webinar.
Semakin longgarnya pembatasan mobilitas fisik, juga berkah keistiqomahan MANGROVE INSTITUT berbagi ilmu pengalaman melalui webinar selama pandemi. Tawaran menjadi konsultan tenaga ahli mangrove datang dari COREMAP-Asian Development Bank Pack VI di BALI. Singkatnya, pada masa akhir pandemi, selama 1,5 tahun, lembaga ini aktif melakukan upaya konservasi, pembibitan, penanaman, pemanfaatan dan penguatan kapasitas kelembagaan mangrove di Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, Bali.
Seiring setelahnya, kolaborasi program mangrove yang memerlukan MANGROVE INSTITUT sebagai konsultan, bertubi-tubi datang silih berganti. Hal itulah yang memantabkan langkah MANGROVE INSTITUT, untuk tetap konsisten menyediakan jasa tenaga ahli mangrove sampai saat ini.
MANGROVE INSTITUT adalah fundrising tetap pergerakan KOMANGJO FOUNDATION. Sebagian penghasilan dari jasa konsultan tenaga ahli mangrove didonasikan ke yayasan, untuk membangun Sekolah Kader Konservasi Pesisir (SK2P) KOMANGJO. Kurikulum sekolah tersebut dikhususkan untuk para generasi muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan pesisir. Dengan semangat itu, jargon MANGROVE INSTITUT dikukuhkan menjadi EYES (Environmental Youth Education School)
Kami menasbihkan diri sebagai organisasi mangrove LOKAL, namun dengan kapasitas GLOBAL, yang terus-menerus memberi warna manfaat secara NASIONAL
Melakukan riset kajian tepat guna dan edukasi mangrove, terutama untuk generasi muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Memperkuat sinergitas gerakan rehabilitasi & konservasi mangrove dengan cara termudah, paling pas dan se-efisien mungkin sesuai syariat alam.
Mengkreasi pola pemanfaatan mangrove yang jelas menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat, dan tetap lestari berkelanjutan untuk ekosistem pesisir.


